Translate

Jumat, 09 Januari 2015

Tragedi Paris: Mengkhianati Nabi Tanpa Sadar

http://www.islamicgeo.com/2015/01/tragedi-paris-mengkhianati-nabi-tanpa.html?m=1

Oleh: Muhammad Elvandi*

Tulisan ini khususnya untuk warga muslim Indonesia di Eropa. Dunia berduka, atas tragedi penembakan di Charlie Hebdo, distrik 11, di sebuah kantor majalah satire yang sering memuat karton cemoohan terhadap nabi Muhammad. Tapi yang paling berduka atas tragedi ini adalah muslim di Eropa.

Puluhan tahun, da’i, ilmuwan, sastrawan, seniman muslim berusaha menampilkan wajah rahmatan lil ‘alamin Islam, mulai dari kesantunan, intelektualitas, produktivitas, dan keterbukaan mengajarkan Islam dengan semua cara yang elegan.  Ia bukan tugas ringan, apalagi di Perancis, dimana Islamophobia sangat kental, tidak seperti di Inggeris yang ramah.

Sekularisme di Perancis adalah yang paling parah [laicité] dan lebih dirasakan dalam bentuk islamofobia. Namun, selama 3 tahun tinggal disana islamofobia itu mulai saya rasakan berkurang. Sekolah-sekolah SD hingga SMA muslim mulai bermunculan dan terbukti meraih banyak prestasi dan menunjukan kepada warga asli Perancis bahwa anak-anak muslim tidak berbeda dengan semua anak kulit putih eropa dalam kemampuan pendidikan. Universitas dan lembaga-lembaga kajian muslim bermunculan dan memjawab kebutuhan masyarakat muslim dan Perancis. Even-event akbar diadakan, seperti Rencontre annuelle des musulmans de France dan sangat terbuka mengundang non-muslim berpartispasi sehingga warga asli Perancis mulai merasakan kehangatan kehadiran muslim yang jauh berbeda dengan stigma yang mereka punya sebelumnya.

Usaha puluhan itu terancam lenyap hanya oleh aksi orang yang merasa sedang membela nabinya, dengan menyerang kantor majalah tersebut dan membunuh 12 orang. Padahal dampak kejahatan ini sangat signifikan.

Saya memprediksi fenomena islamofobia itu akan kembali bangkit di seluruh Perancis. Dan dampaknya akan sangat terasa khususnya oleh muslimah dan oleh anak-anak muslim. Ruang gerak mereka akan lebih sempit kedepan, seperti dipersulit, dicemooh, dilecehkan, dll. Apalagi beberapa media-media mainstream memanfaatkan isu ini seperti menyoroti dengan sengaja kaitan ‘membela nabi dan pembunuhan’.

Tapi tragedi itu telah terjadi, dan ulama-ulama muslim Eropa berusaha turun tangan menghadirkan semua kemampuan intelektualitas dan reputasi mereka untuk meyakinkan dunia bahwa tragedi ini mengkhinati ajaran nabi kami dan Islam mengutuk kejahatan ini. Tariq Ramadhan, Professor Teologi Universitas Oxford, cucu Hasan al-Banna adalah yang paling vokal, dibantu oleh sederet ulama-ulama besar dari majelis fatwa Eropa, dan L’Union des Organisations Islamiques de France.

Namun sayang, di tanah air, beberapa situs seakan tidak mengerti situasi ini. Beberapa artiketl saya lihat menuliskan ‘alhamdulillah serangan di Charlie hebdo tepat sasaran’. Atau mempertanyakan kenapa kita bergerak saat nabi dihina?

Saya berbaik sangka bahwa mereka menulis dengan motiv membela nabi, namun saya katakan bahwa itu salah kaprah. Setelah tragedi ini, yang perlu dilakukan muslim seluruh dunia ada dua. Pertama mengutuk kejahatan ini dan menjelaskan bahwa Islam menentang kekerasan, bukan bersyukur. Kedua, bekerja lebih keras menampilkan produktivitas sebagai seorang muslim sehingga tercermin konsep rahmatan lil ‘alamin nya.

Mungkin anda menjawab, ‘para penghina nabi itu layak mati’. Atau mungkin anda memuji penembakan ini dengan mencari-cari dalil dari buku klasik seperti ‘Saiful Maslul ‘ala syatimirrasul’ yang artinya ‘pedang terhunus untuk penghina rasul’ karya Ibnu Taimiyyah. Saya sudah membacanya dalam bahasa aslinya maka saya katakan anda salah kaprah jika menafsirkan buku itu untuk membenarkan tragedi ini. Jika anda membenarkan tragedi ini dengan mengatakan ‘alhamdulillah’maka anda perlu keluar dari daerah anda dan berangkat ke Eropa untuk melihat kondisi muslim dan membayangkan konsekuensi yang akan dihadapi mereka pasca tragedi ini. Mungkin anda mengatakan ‘nabi kita dihina, kita harus marah’, saya katakan, memang harus marah. Karena kalau tidak marah, maka ada yang salah dengan iman kita. Namun ekspresikan kemarahan itu dengan produktivitas, banyak caranya, tapi bukan dengan pembunuhan.

Tulisan-tulisan yang bernada membela kejahatan di Charlie Hebdo ini sangat berbahaya dan mengkhawatikan, karena niat baik saja tidak cukup jika pada faktanya merugikan Islam. Sehingga seakan membela Islam padahal sedang merobohkannya.

Dalam tulisan ini, saya mengajak seluruh muslim Indonesia di Eropa untuk menjelaskan kepada masyarakat sekitar bahwa Islam mengutuk segala bentuk kejahatan seperti ini lalu tampilkan nilai-nilai Islam. Jangan hiraukan semua artikel-artikel yang bertebaran dan bernada seolah sedang membela nabi dengan memuji tindakan ini padahal mereka sedang mengkhianati nabi dan nilai suci Islam tanpa mereka sadari.

Masyarakat eropa, walaupun mengakses media-media mainstream namun mereka mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi akan kebenaran. Maka ini kesempatan kita untuk menjelaskan lebih banyak, tentang nilai-nilai agung Qur’an yang menjunjung kasih sayang. Pertumbuhan Islam di Amerika sangat tinggi setelah 11 september, karena orang-orang menjadi penasaran dan membaca Islam, semoga ini juga terjadi pada warga Perancis. Sehingga tragedi tidak  meningkatkan islamofobia, tapi menyuburkan lahan dakwah.

Manchester, 7 Januari 2015
_____
*Muhammad Elvandi, Sarjana Dakwah Universitas Al-Azhar Mesir, Master Filsafat IESH de Paris dan Master Politics University of Manchester


Rabu, 03 Juli 2013

Reuni Alumni TN 1

Reuni Alumni TN 1

Pagi hari, Sabtu, 29 Juni 2013, satu demi satu alumni TN-1 memasuki Balairung Pancasila. Hari ini, 20 tahun sudah mereka meninggalkan kampus SMA Taruna Nusantara, tepatnya setelah Prasetya Alumni TN-1 pada tanggal 13 Juni 1993. Hari ini sungguh merupakan momen bersejarah bagi mereka. Dalam undangan yang antara lain ditujukan kepada mantan pamong, panitia menulis: “20 Tahun Alumni Angkatan I SMA Taruna Nusantara kembali penuhi janji, 1993-2013.” Komandan Apel Kedatangan, Letkol Pnb. Moh. Apon, Komandan Skuadron II Yogya, kesulitan mengapelkan rekan-rekannya yang masih mengalami euforia bertemu kembali rekan-rekannya.

You know, they are also kids in their hearts! Mereka bergaya juga saat difoto.
Pada saat makan siang, para alumni dan keluarga, kembali bernostalgia bagaimana makan dengan ompreng. Kesulitan kembali terjadi pada saat Avif, panitia reuni mengumumkan bagi para alumni untuk memenuhi meja depan dulu, sehingga semua meja terisi 6 orang sebelum makan mulai. Hadir juga pada kesempatan makan siang tersebut sejumlah mantan pamong: Bp. Widjongko, Bp. AS. Hidayat, Bp. Sondang Manurung, Bp. Sutarli Zain.
Sabtu malam, pagelaran wayang orang di Balairung Pancasila dilaksanakan semalam suntuk. Sesi 1 dihadirkan Ki Dedek Mawasdiri, ST, MT. Alumni TN-1 yang bekerja di perusahaan tambang di Muscat, Oman ini adalah sarjana Teknik Mesin UGM yang sejak kecil mencintai wayang serta aktif menampilkan kesesian wayang di Oman. Dedek menampilkan lakon Anom Duta sampai tengah malam dan dilanjutkan dalang Ki Medhot Sudarsono dengan lakon Raden Gondomono Luweng sampai Pk. 04.30 pagi. Ki Medhot piawai dalam menampilkan 9 tokoh secara bersama-sama, yang menunjukkan puncak ketrampilan seorang dalang. Pesan moral lakon Gondomono Luweng adalah: bagi para alumni, pada saat ingin mencapai cita-cita atau kekuasaan/posisi, tidaklah menghalalkan segala cara. Hadir pada acara resepsi Kepala LPTTN dan staf, tamu undangan, mantan istri Kepala Sekolah, Ibu Sadja Muljoredjo, mantan pamong, Bp. Sumartono dan Ibu, Bp. Suhardi, serta Bp. Sugeng Karsanto dan Ibu. Semoga tontonan wayang kulit dalam rangka reuni TN-1 ini bisa menjadi tuntunan bagi kita semua.

Letkol Pnb. Moh Apon, Komandan Skuadron II Yogyakarta sebagai Komandan Apel kedatangan alumni TN-1

Wakasekdik, Drs. YB. Suparmono, M.Si. bersalaman dengan Nurman Numaeri, Direktur PT. Niaga Handal Cemerlang, Bandung, usaha sendiri di bidang IT.

Darat, Laut, Udara, Polisi, Bea Cukai dan Camat Nabire Suwardi!

Alumni TN-1 bersama keluarga

Ki Dedek Abadi Mawasdiri menerima wayang dari Kepala LPTTN, Laksda TNI (Purn.) Yuwendi disaksikan Ki Medhot Sudarsono dan Novi, Ketua Angkatan I

Prosesi Kupat Ngluwar, mereka menarik kupat dari arah berbeda dan tersebarlah isi beras dan koin, sebagai tanda bahwa TN-1 sudah memenuhi janjinya.